Sejak pemerintahan Prabowo Subianto, Indira bilang kantornya memang jelas menunjukkan dukungan kepada rezim. Jadi, arahan-arahan untuk tidak menyenggol pemerintah sudah muncul jauh sebelum terjadi bencana Sumatra.
Belakangan, seorang politikus dari lingkar utama Prabowo bahkan tampak mesra dengan kantornya. Indira dan rekan-rekan sekantor percaya si politikus sudah menyuntikkan dana hingga miliaran rupiah agar keuangan kantornya tetap stabil di tengah industri pers yang sedang morat-marit. Setidaknya, begitulah cerita yang beredar internal.
Semua ini membuat Indira kecewa. Ia belum lama jadi wartawan, baru beberapa tahun. Mulanya, ia berharap bisa menyuarakan suara orang kecil lewat liputan-liputannya.
“Realitasnya adalah gue malah disetir kantor,” kata Indira. “Jadi kayak humas [pemerintah]. Kalau ada apa-apa, kita yang nyebokin.”